SAMARINDA – Pagi masih muda ketika halaman Mapolresta Samarinda sudah dipenuhi barisan aparat, Minggu (31/8/2025). Matahari belum terik, tetapi sorotnya menyapu deretan kendaraan taktis, tameng, hingga senjata pengendalian massa yang berjajar rapi. Di barisan depan, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar berdiri tegak, suaranya menggelegar saat memimpin apel persiapan.
“Apel ini bukan sekadar rutinitas. Kita cek satu per satu personel dan peralatan, memastikan semua siap menghadapi situasi esok hari,” tegas Hendri selepas upacara.
Ribuan Aparat, Satu Komando
Hampir seribu personel digerakkan. Polresta Samarinda tidak sendiri; Polda Kaltim mengerahkan Dit Samapta, pasukan Satbrimob, hingga Den 45 anti-anarkis. Dari unsur TNI, Kodim 0901 Samarinda, Batalyon 611 Awang Long, dan Lanud Dhomber ikut turun. Pemerintah daerah pun ambil peran dengan mengerahkan Satpol PP, Dinas Perhubungan, serta Damkar.
Baca Juga : Muhammad Said Minta Perusahaan di Berau Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal
Bahkan barisan sipil ikut bergabung: Banser, relawan, tenaga medis, dan organisasi kepemudaan. “Semangat mereka luar biasa. Sinergi ini bukti semua pihak komit menjaga Samarinda tetap kondusif,” kata Hendri.
Demokrasi Tetap Jalan
Meski aparat hadir dalam jumlah besar, Hendri menegaskan pengamanan bukan untuk membatasi ruang demokrasi. Sebaliknya, aparat justru menjamin kebebasan berpendapat tetap berjalan damai.
“Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 menjamin kebebasan berpendapat. Silakan menyuarakan aspirasi, tapi lakukan dengan cara elok, beretika, dan tertib,” tegasnya.
Hendri sadar, kericuhan sekecil apa pun dapat berimbas panjang. Bukan hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga mengganggu iklim investasi dan stabilitas ekonomi kota. “Kalau Samarinda aman, investasi lancar, ekonomi tumbuh. Itu yang kita jaga bersama,” ujarnya.
Dukungan Tokoh Masyarakat

Di luar barak aparat, denyut persiapan juga terasa di tengah masyarakat. Sore hari, tokoh adat, agama, dan pemuda Samarinda berencana bertemu di sebuah kafe. Perwakilan Dayak, Banjar, Bugis, Madura, Jawa, hingga mahasiswa akan duduk bersama merumuskan deklarasi damai.
“Ini murni inisiatif warga. Intinya jelas: jangan biarkan kericuhan merusak wajah kota,” ujar Hendri.
Baca Juga : PMI Samarinda bekali para siswa keterampilan pertolongan darurat
Instruksi Tegas, Dialog Jadi Utama
Instruksi Presiden melalui Kapolri sudah jelas: aparat wajib bertindak tegas bila aksi berubah ricuh. Namun Hendri menegaskan, pendekatan humanis tetap menjadi prioritas.
“Kalau masih bisa diimbau, kita imbau. Kalau masih bisa dialog, kita dialog. Tindakan tegas hanya dilakukan jika situasi sudah benar-benar darurat,” tegasnya.
Menahan Napas Jelang Aksi
Samarinda kini seperti menahan napas. Ribuan aparat bersiaga, mahasiswa memanaskan semangat menyuarakan keresahan, sementara masyarakat luas hanya ingin satu hal: kedamaian.
“Besok akan jadi ujian bersama. Apakah kita bisa menjaga kota ini tetap damai atau membiarkan kericuhan merusak persaudaraan yang sudah kita rawat?” tutup Hendri.














