Samarinda – Kasus kebakaran di Kota Samarinda terus berulang hampir setiap hari, baik pagi, siang, maupun malam. Data dan pengalaman di lapangan menunjukkan sebagian besar insiden tersebut berawal dari arus pendek listrik yang disebabkan instalasi tidak terawat maupun penggunaan peralatan rumah tangga yang berlebihan.
Hal itu ditegaskan Pelaksana Umum Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Samarinda, Hery Suhendra, SE, saat menjadi narasumber program Obrolan SPADA Pro 2 RRI Samarinda, Selasa (2/9/2025).
“Kalau ada anggapan Samarinda kota yang mudah terbakar, sebenarnya kembali lagi pada kesadaran masyarakat. Faktor paling dominan itu korsleting listrik. Biasanya karena instalasi sudah tua, tidak pernah dicek, atau karena penggunaan stop kontak yang berlebihan hingga dicabang berkali-kali. Akhirnya daya listrik tidak kuat menahan beban,” jelas Hery.
Baca Juga : 22 Mahasiswa Diamankan di FKIP Unmul, 4 Diperiksa Terkait Bom Molotov
Kebiasaan Sepele yang Picu Kebakaran
Menurutnya, kebiasaan kecil yang kerap dianggap sepele juga memicu bencana. Salah satunya, membiarkan ponsel tetap menempel pada charger meskipun baterai sudah penuh. Lebih berbahaya lagi jika ponsel diletakkan di atas benda mudah terbakar, seperti kasur.
“Handphone itu kalau sudah penuh, segera lepas dari charger. Kalau dibiarkan terus nyolok, apalagi ditaruh di kasur, bisa memicu api. Sementara kasus kebakaran akibat kompor yang ditinggal menyala memang ada, tapi jumlahnya tidak sebanyak korsleting listrik,” ungkapnya.
12 Tahun Mengabdi, Edukasi Jadi Prioritas
Hery menuturkan, selama 12 tahun mengabdi di Disdamkarmat, ia bersama tim tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Mereka juga aktif turun ke masyarakat memberikan edukasi pencegahan. Tahun ini, pihaknya menggandeng PLN, kelurahan, dan RT untuk melakukan inspeksi instalasi listrik ke rumah-rumah warga.
“Kami tidak hanya datang saat ada api. Edukasi dan pencegahan sudah sering kami lakukan. Bahkan, tahun ini kami turun langsung bersama PLN dan perangkat daerah untuk mengecek instalasi listrik rumah warga. Tujuannya supaya potensi kebakaran bisa ditekan sejak awal,” terangnya.
Permintaan Sosialisasi Terus Meningkat

Hery menyebutkan, permintaan masyarakat untuk mendapatkan sosialisasi semakin banyak. Disdamkarmat pun aktif memberikan penyuluhan hingga tingkat RT, bahkan mengajarkan cara menghadapi kondisi darurat seperti kebocoran gas.
Baca Juga : 30 Ide Bisnis Rumahan 2025 yang Cocok untuk Ibu Rumah Tangga
Salah satu program yang kini rutin dijalankan adalah Damkar Goes to School. Program ini menyasar pelajar SMA dan SMK agar mereka mengenal sejak dini cara pencegahan kebakaran.
“Kalau anak SMP atau SD masih terlalu dini. Tapi SMA dan SMK sudah bisa. Kami ajarkan bagaimana cara mencegah kebakaran sejak awal, agar mereka bisa mengingatkan orang tua di rumah kalau ada kondisi berbahaya,” jelas Hery.
Tips Pencegahan untuk Warga
Lebih lanjut, Hery membagikan tips sederhana yang bisa diterapkan warga Samarinda agar terhindar dari kebakaran:
-
Selalu periksa kondisi listrik dan kompor sebelum bepergian.
-
Hindari penggunaan stop kontak berlapis yang bisa memicu korsleting.
-
Sesuaikan daya listrik rumah dengan kebutuhan peralatan elektronik.
-
Lakukan perawatan rutin terhadap instalasi listrik dan kompor gas.
“Orang sering terburu-buru kalau mau keluar rumah. Akhirnya lupa cek listrik atau kompor. Padahal hal kecil itu bisa menentukan keselamatan. Intinya, jangan anggap remeh pengecekan,” tegasnya.
Kesadaran Jadi Kunci
Melalui berbagai upaya edukasi, inspeksi, hingga program sosialisasi, Disdamkarmat berharap angka kebakaran di Samarinda bisa menurun. Namun, Hery menegaskan, upaya itu akan berhasil bila masyarakat memiliki kesadaran penuh menjaga keamanan rumah masing-masing.
“Bagi kami, kesadaran masyarakat adalah kunci utama. Kalau semua warga peduli dengan kondisi listrik dan peralatan rumahnya, risiko kebakaran bisa ditekan seminimal mungkin,” pungkasnya.














